Orang-Orang yang Pantas Dicemburui

Oleh: Ust. Abdulloh Taslim al-Buthoni, M.A.

 

Hukum asalnya, sifat iri dan cemburu terhadap kelebihan orang lain dalam Islam tidak diperbolehkan, karena sifat ini mengandung sangkaan buruk kepada Allah dan tidak ridha dengan pembagian yang Allah berikan kepada makhluk-Nya. Akan tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam mengecualikan beberapa orang yang boleh dan pantas untuk dicemburui karena kelebihan besar yang mereka miliki. Siapakah mereka? Temukan jawabannya dalam hadits berikut ini.

Bersumber dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Tidak ada (sifat) iri (yang terpuji) kecuali pada dua orang: seorang yang dipahamkan oleh Allah tentang al-Qur’an kemudian dia membacanya di waktu malam dan siang hari, lalu salah seorang tetangganya mendengarkan (bacaan al-Qur’an)nya dan berkata, ‘Duhai, kiranya aku diberi (pemahaman al-Qur’an) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan (membaca al-Qur’an) seperti yang diamalkannya….’ Dan seorang yang dilimpahkan oleh Allah baginya berupa harta (yang berlimpah), kemudian dia membelanjakannya di (jalan) yang benar, lalu ada orang lain yang berkata, ‘Duhai, kiranya aku diberi (kelebihan harta) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan (bersedekah di jalan Allah) seperti yang diamalkannya.’” (HSR. al-Bukhari)

Maksud “iri/cemburu” dalam hadits di atas adalah iri yang benar dan sama sekali tidak tercela. Iri tersebut dinamakan dengan al-gibthah, yang artinya menginginkan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain tanpa mengharapkan hilangnya nikmat itu dari orang tersebut.[1]

Coba perhatikan dan renungkan hadits berikut ini dengan saksama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam menyebutkan dua golongan manusia yang pantas untuk dicemburui, yaitu orang yang memahami al-Qur’an dan mengamalkannya, serta orang yang memiliki harta dan menginfakkannya di jalan Allah. Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam juga telah menjelaskan sebab yang menjadikan mereka pantas untuk dicemburui, bukan karena kelebihan dunia semata yang mereka miliki, tapi karena mereka mampu untuk menundukkan hawa nafsu yang mencintai dunia secara berlebihan, sehingga harta yang mereka miliki tidak menghalangi mereka untuk meraih keutamaan tinggi di sisi Allah.

Inilah kelebihan sejati yang pantas untuk dicemburui. Adapun kelebihan harta atau kedudukan duniawi semata, maka ini sangatlah tidak pantas untuk dicemburui, karena hal itu hakikatnya bukan merupakan kelebihan, tetapi celaan dan fitnah bagi manusia, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam dalam sebuah hadits, “Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta.”[2]

Oleh karena itu, cemburu dan iri hanya karena kelebihan harta yang dimiliki seseorang tanpa melihat bagaimana penggunaan harta tersebut, ini merupakan sifat yang sangat tercela. Allah q\ telah berfirman mengenai orang-orang yang iri melihat harta kekayaan Qarun pada zamannya:

Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan perhiasannya (harta bendanya). Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, “Duhai, kiranya kami mempunyai harta kekayaan seperti yang diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya dia benar-benar memiliki keberuntungan yang besar.” Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata, “Celakalah kalian! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang bersabar.” Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang (mampu) menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri. Dan jadilah orang-orang yang kemarin mengangan-angankan kedudkan (harta benda) Qarun itu berkata, “Aduhai, benarlah kiranya Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki di antara para hamba-Nya). Sekiranya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya kepada kita, tentu Dia telah membenamkan kita pula. Aduhai, benarlah kiranya tidak akan beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).” (QS. al-Qashash: 79-82)

Adapun contoh sikap cemburu yang benar, adalah sikap cemburu dalam kebaikan yang ditunjukkan oleh orang-orang yang sempurna iman mereka; para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut:

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Orang-orang miskin (dari para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam) pernah datang menemui beliau, lalu mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, orang-orang (kaya) yang memiliki harta yang berlimpah bisa mendapatkan pahala (dari harta mereka), kedudukan yang tinggi (di sisi Allah) dan kenikmatan yang abadi (di surga), karena mereka melaksanakan shalat seperti kami melaksanakan shalat dan mereka juga berpuasa seperti kami berpuasa. Tetapi, mereka memiliki kelebihan harta yang mereka gunakan untuk menunaikan ibadah haji, umrah, jihad dan sedekah, sedangkan kami tidak memiliki harta…’” Dalam riwayat Imam Muslim, di akhir hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Itu adalah kerunia (dari) Allah yang diberikan oleh-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”[3]

Imam Ibnu Hajar berkata, “Dalam hadits ini (terdapat dalil yang menunjukkan) lebih utamanya orang kaya yang menunaikan hak-hak (Allah) pada (harta) kekayaannya dibandingkan orang miskin. Karena berinfak di jalan Allah (seperti yang disebutkan dalam hadits di atas) hanya bisa dilakukan oleh orang yang kaya.”[4]

Kesimpulannya, termasuk orang yang pantas dicemburui, bahkan kecemburuan tersebut telah dipuji dalam Islam, adalah orang yang memiliki kelebihan dalam harta tapi dia selalu menginfakkan hartanya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena kecemburuan ini dapat menjadi motivasi seorang hamba untuk berlomba-lomba dalam kebaikan yang diperintahkan dalam agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. (QS. al-Baqarah: 148)

Jadi, cemburu dan iri kepada kelebihan harta yang dimiliki seseorang bukan karena kelebihan harta yang dimilikinya semata-mata, akan tetapi karena motivasi kebaikan besar yang dimilikinya dengan banyak membelanjakan hartanya di jalan Allah. Inilah sebaik-baik harta yang dimiliki oleh orang yang beriman, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam, “Sebaik-baik harta yang shalih (penuh berkah) adalah untuk hamba yang shalih.”

Adapun sifat rakus dan ambisi berlebihan terhadap harta tanpa mempertimbangkan keberkahan dan manfaatnya dalam meraih keridhaan Allah, maka ini merupakan perbuatan tercela dan sebab yang akan merusak keimanan seorang hamba, serta menjadikannya jauh dari segala kebaikan dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya).”[5]

Semoga Allah meudahkan kita untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketaatan kepada-Nya. Amin

[1] Siyar A’lamin Nubala’ 8/437.

[2] HR. at-Tirmidzi (no. 2336) dan Ahmad (4/160), dinyatakan shahih oleh imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani.

[3] HSR. al-Bukhari (no. 807 dan 5970) dan Muslim (no. 595).

[4] Fathul Bari 3/298.

[5] HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan syaikh al-Albani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *