Pentingnya Menjaga Lisan

Pentingnya Menjaga Lisan

Abu Ammar al-Ghoyami

www.alghoyami.wordpress.com

Orang bilang, “Memang lidah tak bertulang,” “Orang itu memang pandai bersilat lidah,” ‘Lisan memang lebih tajam daripada pedang,” dan sejumlah perkataan lainnya yang telah dikenal akrab oleh manusia serta menunjukkan betapa hebatnya lidah atau lisan. Lidah mudah berucap dan mudah menyelisihi ucapannya sebelumnya, sehingga pantas disebut bagian tubuh yang tak bertulang sebab plin-plannya. Lidah atau lisan ibarat jurus mematikan dalam ilmu bela diri, sehingga orang bisa saja berlindung dari salah dengan jurus bersilat lidah yang mudah memutar-balikkan pernyataan dan kesepakatan.

Lidah atau lisan bahkan merupakan senjata yang tikamannya terasa lebih menyayat dan lebih pedih dibanding tikaman dan sayatan pedang. Gambaran bahwa perkataan itu sangat kuat pengaruhnya bagi pendengarnya, yang jika menusuk akan terasa lebih menyakitkan, jika membakar lebih terasa panasnya di telinga pendengar, jika mengolok lebih menyakitkan hati, dan seterusnya. Jika demikian maka lidah atau lisan memang harus dijaga dan dikondisikan.

 

Perintah menjaga lisan

Terdapat beberapa dalil dari al-Qur’an maupun dari Sunnah yang secara tidak langsung memerintahkan menjaga lisan. Di antaranya ialah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaf: 18)

 

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Tiada terucap, yaitu oleh anak Adam (manusia) suatu ucapan pun, yaitu tiada berucap dengan satu kata pun, melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir, artinya melainkan ada baginya Malaikat yang mengawasinya memperhitungkannya dengan mencatatnya. Tiada dia tinggalkan satu kata pun atau satu gerakan pun. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (QS. al-Infithar: 10-12):

 

Padahal Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.’” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/398)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. an-Nur: 24)

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى لَهَا بَأْسًا يَهْوِيْ بِهَا سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا فِي النَّارِ

“Sesungguhnya seorang laki-laki benar-benar akan berucap dengan satu kata saja yang ia tidak memandang kata itu ada bahayanya sehingga ia dengan sebab kata itu jatuh ke dalam neraka selama tujuh puluh masa.” (HR. at-Tirmidzi: 2314, Ibnu Majah: 3970 dengan sanad hasan shahih, Shahih Sunan Tirmidzi: 1884)

Beliau Shallallahu ‘alaihi was salam juga bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا ، أَوْ لِيَصْمُتْ.

“Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia bicara yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari: 6018, Muslim: 182)

 

Mengapa wajib menjaga lisan?

               Ada beberapa alasan mengapa wajib menjaga lisan selain sebab menjaga lisan itu diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Di antara sebab-sebab itu ialah karena bahayanya membiarkan lisan tak terjaga. Berikut ini sebab-sebab lain mengapa harus menjaga lisan:

 

  1. Dia antara perkara yang paling dikhawatirkan Rasulullah bahayanya terhadap manusia ialah lisan.

Beliau Shallallahu ‘alaihi was salam pernah ditanya oleh Sufyan bin Abdillah Radhiallahu ‘anhu tentang perkara apa yang paling beliau khawatirkan bahayanya atasnya, beliau Shallallahu ‘alaihi was salam kemudian menunjuk lisannya sendiri seraya mengatakan, “Ini.” (HR. at-Tirmidzi, dan berkata, ‘Hadits ini hasan shahih,’ Ibnu Majah, Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya, dan al-Hakim dan berkata, ‘Sanadnya shahih,’ Shahihut Targhib no. 2862)

  1. Karena lisan seorang muslim yaitu yang tidak mengganggu orang lain.

Abu Musa Radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam, “Wahai Rasulullah, di antara kaum muslimin ini siapa yang paling afdhal islamnya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi was salam menjawab:

مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“(Yang paling afdhal ialah) siapa yang kaum muslimin selamat dari (gangguan) lisannya dan tangannya.” (HR. al-Bukhari: 11, Muslim: 172)

  1. Dianjurkan berlindung dari keburukan lisan.

Di antara perkara yang bahayanya mengancam manusia sehingga kita diperintahkan oleh Rasulullah untuk berlindung darinya ialah bahaya lisan. Diriwayatkan dari Syakal bin Humaid Radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku ta’awwudz (doa mohon perlindungan) yang aku akan berta’awwudz dengannya.” Maka beliau memegang telapak tangannya seraya mengajarinya ta’awwudz berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, dan dari keburukan penglihatanku, dan dari keburukan lisanku, dan dari keburukan hatiku, dan dari keburukan maniku (yaitu farji).” (HR. at-Tirmidzi: 3492 dengan sanad shahih)

  1. Menjaga lisan sebab mendapat jaminan surga.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang menjaga sesuatu yang ada di antara dua tulang rahangnya (yaitu lisannya) dan apa yang ada di antara dua pahanya (yaitu farjinya) niscaya aku jamin ia masuk surga.” (HR. al-Bukhari: 6474)

  1. Manusia yang banyak bicara paling dibenci Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam dan kelak di akhirat tempatnya paling jauh dari beliau Shallallahu ‘alaihi was salam.

Diriwayatkan dari Jabir Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُم أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّيْ مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَلثَّرْثَارُوْنَ وَالْمُتَشَدِّقُوْنَ وَالْمُتَفَيْهِقُوْنَ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُوْنَ وَالْمُتَشَدِّقُوْنَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُوْنَ ؟ قَالَ الْمُتَكَبِّرُوْنَ

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dari kalian dan yang kelak di hari kiamat paling dekat denganku kedudukannya ialah yang paling baik akhlaknya di antara kalian. Sedangkan orang yang paling aku benci di antara kalian dan yang tempatnya paling jauh dariku kelak di hari kiamat ialah ats-Tsartsarun dan al-Mutasyaddiqun, dan al-Mutafaihiqun.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, kami telah tahu ats-Tsartsarun dan al-Mutasyaddiqun, lalu siapa al-Mutafaihiqun itu?” Rasulullah bersabda, “Mereka yang sombong.” (HR. at-Tirmidzi: 2018 dengan sanad shahih, ash-Shahihah: 791)

 

Al-Mubarakfuri v\ (Tuhfatul Ahwadzi 5/272) menyebutkan, bahwa di dalam an-Nihayah disebutkan, bahwa ats-Tsartsarun ialah orang yang banyak bicara dan memaksakan diri bicara apa saja dan agar berkilah dari yang haq, termasuk yang banyak bicara dan mengulang-ulang bicaranya. Sedangkan al-Mutasyaddiqun ialah orang yang bebas lepas bicara tanpa kehati-hatian dan kewaspadaan dari salah. Dan al-Mutafaihiqun ialah orang yang bebas lepas bicaranya dengan muluk-muluk serta bebas pula dalam membuka mulut saat berbicara. Hal demikian dilakukan karena merasa wah dengan bicaranya dan kefasihannya dan untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih dari yang lain. Oleh karenanya, Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam menafsirkan dengan orang yang sombong, yaitu sombong dalam bicaranya.

 

Bahaya tidak menjaga lisan

Hal yang terpenting dalam bab ini, bahwa kebanyakan manusia terjerumus ke dalam neraka sebab buah ucapan lisannya.

Diriwayatkan oleh Ubadah bin Shamit Radhiallahu ‘anhu, bahwa suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam keluar dengan naik kendaraannya sementara para sahabat beliau di sekitar beliau, lalu Mu’adz bin Jabal Radhiallahu ‘anhu berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah engkau mengizinkan aku maju bersamamu atas kerelaan jiwamu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam menjawab, “Ya.” Maka Mu’adz pun mendekat ke beliau Shallallahu ‘alaihi was salam lalu keduanya berjalan bersama.

Mu’adz bin Jabal Radhiallahu ‘anhu lalu berkata, “Ayahku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah. Aku memohon kepada Allah agar Dia menjadikan hari kami sebelum harimu (yaitu kematian). Bagaimana jika terjadi sesuatu (yaitu kematian Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam) dan kami tidak memandang kejadian apa pun insya Allah, maka amalan apa yang kami harus lakukan sepeninggalmu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam pun diam sesaat lalu bersabda, “Jihad di jalan Allah.” Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi was salam melanjutkan sabdanya, “Sebaik-baik amalan ialah jihad di jalan Allah. Adapun sesuatu yang ada pada manusia lebih menguasai hal itu.” (Mu’adz berkata), “Apakah puasa dan sedekah (yang engkau maksudkan)?” Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik amalan ialah puasa dan sedekah.” Mu’adz pun menyebutkan setiap kebaikan yang dilakukan manusia. Sehingga bersabdalah Rasulullah, “Dan seseorang kembali bersama manusia adalah lebih baik dari hal itu.”

Mu’adz lalu bertanya, “Apa itu, ayahku dan ibuku menjadi tebusanmu, seseorang kembali bersama manusia adalah lebih baik dari hal itu?” Lalu Rasulullah menunjuk mulut beliau lantas bersabda, “Diam, kecuali dari kebaikan.”

Mu’adz bertanya keheranan, “Apakah kita akan disiksa juga dengan sebab pembicaraan lisan kita?” Lalu Rasulullah menepuk paha Muadz Radhiallahu ‘anhu kemudian bersabda:

يَا مُعَاذُ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسُ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ فِي جَهَنَّمَ إِلَّا مَا نَطَقَتْ بِهِ أَلْسِنَتُهُمْ, فَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوُمِ الْأَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ يَسْكُتُ عَنْ شَرٍّ. قُوْلُوْا خَيْرًا تَغْنَمُوْا وَاسْكُتُوْا عَنْ شَرٍّ تَسْلَمُوْا.

“Wahai Mu’adz, celaka ibumu kehilanganmu! Adakah sesuatu yang menjadikan manusia diseret di atas lehernya ke Jahannam selain dari apa yang telah diucapkan oleh lisan-lisan mereka?! Maka siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata yang baik atau diam dari keburukan. Ucapkanlah kebaikan niscaya kalian beruntung dan diamlah dari keburukan niscaya kalian selamat.” (HR. al-Hakim dan selainnya, sebagaimana di dalam ash-Shahihah no. 412)

 

Benar, sebab lisan yang tidak terkendali dan tidak dijaga akan menjatuhkan pemiliknya ke dalam berbagai dosa, seperti syirik dalam doa dan mengadu, berdusta atas nama Allah, Rasul dan agama, berfatwa asal-asalan pendapatnya tanpa ilmu, memutuskan perkara dengan selain hukum Allah dan Rasul-Nya, nadzar demi selain Allah, bertanya kepada dukun, membaca ramalan bintang, berbantah-bantahan dan debat kusir tentang agama, sumpah palsu, persaksian palsu, tuduhan palsu, bohong dan dusta, adu domba, gossip, menceritakan rahasia, mengolok-olok, mengejek, menyanyi, ucapan kotor dan keji, serta dosa lisan lainnya yang sangat banyak, semuanya merupakan dosa.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga lisan kita dari dosa dan meluruskannya di atas kebaikan dan ketaatan kepada-Nya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *