Tatkala Ayam Jago Berkokok dan Keledai Meringkik

Tatkala Ayam Jago Berkokok dan Keledai Meringkik

Oleh: Abu Ilyas Zaenal Musthofa

 

إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ فَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا وَإِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الْحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا

“Apabila kalian mendengar ayam jago berkokok maka mintalah karunia Allah karena ia sedang melihat malaikat. Dan apabila kalian mendengar ringkikan keledai maka mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan karena ia sedang melihat setan.” (HR.al-Bukhari no. 3127 dan Muslim no. 2729)

 

Makna kalimat:

  1. Kata صِيَاحَ الدِّيَكَةِ maksudnya suara ayam jago. Kata الدِّيَكَةِ adalah bentuk jamak dari kata اَلدِّيْكُ seperti kata اَلْقِرَدَةُ  jamak dari اَلْقِرْدُ yang artinya monyet.
  2. Sedangkan kata نَهِيقَ الْحِمَارِ maksudnya adalah suara khimar (keledai). Suara keledai merupakan seburuk-buruk suara, sebagaimana firman Allah q\ dalam surat Luqman ayat 19.

 

Faedah:

  1. Hadits ini bersumber dari sahabat yang mulia, Abu Hurairah Radhiallahu ‘anha. Orang jahiliah biasa memanggilnya Abdusy-syams (hamba matahari). Manakala Allah memuliakannya dengan Islam maka namanya diganti oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam menjadi Abdurrahman. Sehingga nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausi. Beliau masuk Islam atas bimbingan ath-Thufail bin ‘Amru ad-Dausi Radhiallahu ‘anhu. Walaupun tidak lama bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam, namun beliau banyak sekali meriwayatkan hadits, lebih dari 1600 hadits. Beliau sempat beberapa kali menjadi gubernur Madinah atas perintah Mu’awiyah bin Abu Sufyan Radhiallahu ‘anhu. Beliau meninggal pada tahun 57 H. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan atas jasa mulianya bagi Islam dan kaum muslimin.[1]
  2. Dalam hadits di atas kita dianjurkan untuk meminta karunia dan kebaikan kepada Allah tatkala mendengar ayam jago berkokok. Karena pada waktu itu ia sedang melihat Malaikat. Ayam jago mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki hewan lain, yaitu mengetahui waktu malam, baik malam itu panjang maupun pendek. Dia akan berkokok berkali-kali menjelang fajar atau sesudahnya.
  3. Adapun sebab kita diperintah meminta karunia dan kebaikan kepada Allah pada saat itu adalah karena saat itu malaikat hadir di sana. Doa yang dipanjatkan pada saat itu kemungkinan besar akan dikabulkan oleh Allah karena boleh jadi Malaikat tersebut mengaminkan doa kita.[2]
  4. Sedangkan apabila kita mendengar ringkikan keledai atau suara anjing[3] pada malam hari maka kita dianjurkan untuk berlindung kepada Allah karena pada saat itu kedua hewan tersebut sedang melihat setan.
  5. Yang dimaksud meminta karunia dan kebaikan ini bersifat umum, tidak ada doa khusus yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam. Demikian juga doa berlindung kepada Allah saat mendengar ringkikan keledai atau lolongan anjing di malam hari tidak ada doa khusus. Kita bisa berlindung kepada Allah sebagaimana kita berta’awwudz ketika hendak membaca al-Qur’an atau yang semakna dengan itu. Allahu a’lam.

[1] Shuwar min Hayatish Shahabah, edisi terjemahannya “Mereka adalah para sahabat” hal. 356.

[2] Fathul Bari 6/353.

[3] HR. Abu Dawud no. 5103 dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 3184.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *