Ummu Ayyub al-Anshariyyah Radhiallahu ‘anha

Ummu Ayyub al-Anshariyyah Radhiallahu ‘anha

 

Suasana kota Madinah terasa berbeda saat itu. Penduduknya keluar dari rumah berdiri di jalan-jalan. Dari wajah mereka terpancar kegembiraan dan suka cita. Seperti ada sesuatu yang sangat istimewa yang sedang mereka nanti. Ada apakah gerangan?

Pada hari itu diperkirakan kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam dari Makkah untuk hijrah ke Madinah. Setelah menginap di Quba’ selama empat hari dan membangun masjid di sana, beliau akhirnya sampai di jantung kota Madinah. Penduduk yang telah lama menanti-nanti peristiwa bersejarah itu berduyun-duyun menyambut kedatangan beliau dan sahabatnya. Mereka membuka lebar-lebar pintu rumah mereka untuk beliau. Semuanya berharap mendapat kemuliaan menjadi tuan rumah bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam.

Bangsawan-bangsawan Yatsrib yang menyambut kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam berharap agar rumah merekalah yang menjadi pilihan beliau sebagai tempat tinggal. Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam berkata: “Biarkanlah untaku berjalan. Sesungguhnya ia menjalankan perintah (Allah).” Akhirnya, unta itu berhenti di halaman rumah sederhana milik Abu Ayyub al-Anshari Radhiallahu ‘anhu. Dengan sangat gembira Abu Ayyub menyambut beliau dan mengangkat barang bawaan beliau ke dalam rumahnya.

 

Keluarga yang mencintai Rasulullah

Abu Ayyub Radhiallahu ‘anhu mempunyai istri, yang biasa dipanggil Ummu Ayyub Radhiallahu ‘anha. Ia berasal dari suku Khazraj. Rumah Abu Ayyub ini terdiri dari dua tingkat. Rasulullah memilih untuk menempati lantai dasar agar dapat leluasa berjumpa dengan para sahabatnya tanpa menyulitkan tuan rumah. Hanya saja, hal itu menyebabkan Abu dan Ummu Ayyub merasa tak nyaman.

Ummu Ayyub berkata kepada suaminya, “Suamiku, Rasulullah tidur di bawah kita, dan lebih rendah dari kita?!” Ketika pagi, Abu Ayyub menyampaikan bahwa ia tidak suka berada di atas sedangkan Nabi berada di bawah. Kemudian Rasulullah beralasan karena tamu beliau banyak, sehingga bila tinggal di atas malah akan merepotkan tuan rumah.

Abu Ayyub menurut. Hingga pada suatu malam yang sangat dingin, kendi tempat menyimpan air mereka pecah sehingga air tumpah ke lantai di tingkat atas. Abu dan Ummu Ayyub segera mengeringkan lantai itu menggunakan selimut mereka satu-satunya. Mereka takut air itu akan menetes ke lantai bawah dan mengenai Rasulullah.

Demikianlah, akhirnya mereka dapat mengeringkan lantai itu namun malam itu mereka tidur kedinginan tanpa selimut. Keesokan harinya, Abu Ayyub menceritakan kejadian semalam dan kembali meminta Rasulullah untuk pindah ke atas. Akhirnya Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam menerima permintaan Abu Ayyub. Dan dengan itu, legalah mereka berdua karena mereka tidak lagi akan berada di tempat yang lebih tinggi daripada junjungan mereka yang mulia, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam.

Kecintaan Abu dan Ummu Ayyub kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam sangatlah besar, sehingga apa saja yang berhubungan dengan Rasulullah dan sesuatu yang tersentuh dengan tubuh beliau juga mereka muliakan. Abu Ayyub bercerita, “Adalah kami setiap malam membuatkan makan malam untuk beliau, kemudian mengirimkannya kepada beliau Shallallahu ‘alaihi was salam. Jika makanan beliau itu bersisa maka aku dan Ummu Ayyub memakannya dibekas sisa makan beliau demi mengharap berkah darinya.”

Semoga Allah meridhai Abu dan Ummu Ayyub, dan menempatkan mereka bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam di surga Firdaus. Amin.

 

Untuk orang tua dan pendidik:

  1. Pahamkanlah kepada anak, bahwa mengambil berkah dari sisa tubuh Rasul diperbolehkan.
  2. Ajarkan kepada anak agar mencintai Rasulullah di atas kecintaan kepada keluarga, harta dan diri sendiri. Karena iman seorang muslim tidak akan sempurna bila masih belum mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaannya terhadap dunia, termasuk kepada dirinya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *