Ya Allah, Perbaikilah Urusan Dunia dan Akhiratku

Ya Allah, Perbaikilah Urusan Dunia dan Akhiratku 

Oleh: Abu Ilyas Zaenal Musthofa 

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Wahai Dzat Yang Maha Hidup kekal dan Yang terus-menerus mengurusi (makhluk-Nya), dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah seluruh urusanku dan jangan Engkau serahkan (urusan tersebut) kepadaku meskipun hanya sekejap saja (tanpa pertolongan dari-Mu)” (HR.an-Nasa’i, al-Bazzar dan al-Hakim. Syaikh al-Albani menghasankan hadits ini dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 661)

Makna Kalimat:[1]

  1. اَلْحَيُّ merupakan salah satu nama Allah ﷻ yang agung dan mulia. Al-Hayyu (Mahahidup kekal) merupakan lawan dari al-mayyit (mati) sebagaimana Allah ﷻ sebutkan dalam firman-Nya:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا

Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Mahamengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya. (QS. al-Furqan: 58)

  1. Sedangkan اَلْقَيُّوْمُ juga termasuk asma’ul husna. Allah ﷻ adalah satu-satunya Dzat yang menegakkan urusan makhluk-Nya dengan sempurna. Tak ada yang sanggup untuk menegakkan dan mengurusi segala urusan semua makhluk di alam semesta ini melainkan Allah ﷻ.

Faedah:[2]

  1. Hadits di atas bersumber dari sahabat yang mulia Anas bin Malik bin an-Nadhr al-Anshari a\. Ibunda beliau bernama Ummu Sulaim bintu Milhan s\. Tatkala Rasulullah n\ tiba di kota Madinah, beliau baru berumur sekitar 10 tahun. Beliau menjadi pelayan Rasul selama kurang lebih 10 tahun, sehingga ketika Nabi wafat usia Anas baru 20 tahun. Beliau adalah sahabat yang paling terakhir wafat di kota Bashrah, dengan usia lebih dari 90 tahun.
  2. Dalam hadits yang mulia ini Rasulullah menyebutkan 2 nama bagi Allah, yaitu al-Hayyu dan al-Qayyum. Kedua nama ini sering disebut secara bergandengan di beberapa tempat dalam al-Qur’an. Di antaranya dalam surat al-Baqarah ayat 255, surat Ali ‘Imran ayat 2 dan surat Thaha ayat 111.
  3. Al-Hayyu adalah Yang hidup sempurna, yang mengandung semua sifat dzatiyyah bagi Allah, seperti ilmu, keperkasaan, kekuasaan, keinginan, kebesaran, keagungan dan sifat dzatiyyah Sedangkan al-Qayyum mempunyai dua makna, pertama; Dialah yang berdiri sendiri, agung sifat-Nya dan tidak memerlukan apa pun dari makhluk-Nya. Kedua; Dialah yang menegakkan langit dan bumi serta segala sesuatu yang berada di antara keduanya.
  4. Dalam dzikir atau doa di atas mengandung adab dalam memanjatkan doa, di antaranya sebelum inti dari permintaan didahului dengan nama-nama Allah. Dan ini sebagai bentuk pengamalan dari firman Allah:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Hanya milik Allah asma’ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. (QS. al-A’raf: 180)

  1. Hendaknya seorang muslim membiasakan dirinya untuk senantiasa membaca dzikir di atas setiap pagi dan sore hari agar semua perkaranya mendapat pertolongan dari Allah ﷻ.

[1] Syarh ‘Aqidah Ahli as-Sunnah wa al-Jama’ah kar. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin hal. 44.

[2] Usdul Ghabah 1/92-195, Syarh Asma’ al-Husna (terj.) kar. Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani hal. 170.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *