Yuk, Kita Hitung Napas Kita

Oleh: Zaenal M.

 

Keluh kesah dan kikir. Itulah dua sifat dasar manusia yang senantiasa menghiasi setiap sendi kehidupannya. Senantiasa berkeluh kesah tatkala mendapat ujian dan musibah. Dan saat mendapat kenikmatan dari Sang Pencipta, dia amat kikir lagi pelit. Laksana menggenggam air dengan telapak tangan, namun tak ada satu pun yang menetes darinya. Lain halnya dengan orang yang beriman, ia senantiasa bersabar ketika ujian menerpa dan selalu bersyukur tatkala anugerah Allah datang. Namun sangat sedikit sekali manusia yang pandai bersyukur, bahkan kebanyakan mereka adalah berbuat aniaya dan mengingkari nikmat Yang Mahakuasa.

Saudaraku, mari duduk sejenak untuk merenungkan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Kita tidak akan menghitung semua nikmat yang telah Dia karuniakan, karena kita tidak akan sanggup untuk mengalkulasinya, walau alat super canggih berderet di depan kita. Mari kita cermati salah satu nikmat yang Allah berikan, udara yang setiap saat kita hirup. Sudah pernahkah kita menghitungnya? Berapa banyak udara yang kita butuhkan sehari, sebulan, setahun atau seumur hidup kita? Atau karena merupakan rutinitas kita setiap detiknya, akhirnya kita melupakan dan tidak pernah memikirkannya?

Saudaraku yang dirahmati Allah, dalam sekali bernapas umumnya manusia memerlukan ± 0,5 liter udara. Bila setiap orang bernapas sebanyak 20 kali setiap menitnya, berarti udara yang dibutuhkan sebanyak 10 liter. Dan dalam sehari maka setiap orang memerlukan 14.400 liter udara! Dalam bernapas, kita membutuhkan dua unsur gas utama yang sangat penting. Pertama: oksigen yang berfungsi untuk mengubah makanan dan minuman yang ada di dalam tubuh menjadi energi, sehingga manusia bisa melakukan aktivitasnya. Dan bila dalam empat menit saja (rata-rata), manusia tidak mendapat oksigen, maka sel-sel otaknya akan rusak. Kedua: nitrogen yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan asam basa dan mempercepat proses penyembuhan. Nah, pernahkah Anda menghitung berapa rupiah jika udara yang Anda hirup harus diuangkan?

Berapa rupiah untuk kebutuhan nifas kita?

Jika harga oksigen Rp. 25.000 per liter dan nitrogen per liternya Rp. 9.950, maka setiap harinya manusia menghirup udara yang sekurang-kurangnya setara dengan Rp. 176.652.165. Dengan kata lain, bila manusia diminta membayar sejumlah udara yang dihirup, berarti setiap bulan harus menyediakan uang sekitar 5,3 Miliar rupiah! Dalam setahunnya, setiap orang dapat menghabiskan dana 63,6 Miliar!

Subhanallah, itu hanya jumlah uang yang diperlukan dalam setahun. Bagaimana jika dihitung seluruh kebutuhan udara dalam seumur hidup? Pastilah nilainya lebih mencengangkan lagi. Sungguh, Allah maha pemurah atas segala karunia-Nya. Tak terkecuali nikmat Allah dari udara yang digunakan manusia sebagai bahan bernapas setiap saatnya. Udara yang melimpah di alam raya ini merupakan bukti kasih sayang Allah yang luar biasa terhadap hamba-Nya.

 

Bagaimana bila udara dibisniskan?

Wahai saudaraku, tiap akhir bulan banyak tagihan yang datang ke rumah. Tagihan telepon, air, listrik maupun tagihan yang lainnya. Selama ini, pernahkah Allah ta’ala mengirimkan tagihan udara yang telah kita hirup? Bagaimana kalau seandainya  Allah meminta kita untuk membayar udara-Nya?? Apa yang dapat kita lakukan untuk membayar biaya bernapas kita? Berapa rupiah biaya yang harus kita alokasikan untuk hidup selama ini jika udara yang kita hirup harus dibayar dengan uang? Orang yang paling kaya pun tidak akan sanggup melunasi biaya napas selama hidupnya. Itu baru udaranya saja, belum organ tubuh yang kita pakai untuk bernapas. Tahukah Anda, berapa biaya yang harus kita keluarkan jika ada gangguan pernapasan kita? Demikianlah bila udara diperdagangkan oleh yang memilikinya.

Namun ternyata, tak pernah ada tagihan dari Allah yang menghampiri kita. Sekumpulan gas yang kita hirup selama ini diberikan Allah dengan cuma-cuma. Tak sepeser pun kita dipungut biaya atas nikmat yang amat penting tersebut. Oleh karenanya, sudah sepantasnyalah kita bersyukur atas nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita, dengan menaati semua perintah dan menjauhi setiap larangan-Nya serta meningkatkan ibadah kita kepada Allah ta’ala. Sungguh, manusia pada hakikatnya sangat lemah dan tidak layak berlaku sombong di muka bumi ini!

 

Renungkan kisah berikut

Dikisahkan, seorang bapak berusia 70 tahun menderita tidak bisa buang air kecil selama beberapa hari. Setelah bertambah rasa sakitnya, bapak itu mendatangi dokter spesialis. Maka dokter meminta bapak tersebut agar dioperasi dan bapak itu menyetujui. Setelah selesai operasi dan berhasil, maka dokter memberikan tagihan rumah sakit kepadanya. Tatkala melihat isi tagihannya, menangislah laki-laki itu. Dokter pun bertanya, “Jika tagihan tersebut memberatkan Anda, saya bisa meringankannya untuk Anda? Bapak itu menjawab, “Bukan itu yang membuat aku menangis. Yang membuatku menangis, bahwa Allah telah memberiku nikmat untuk bisa buang air kecil selama 70 tahun, dan Allah tidak pernah mengirimkan tagihan apa pun kepadaku untuk membayarnya.”

Subhanallah Hendaknya kita senantiasa bersyukur kepada Allah, baik di kala suka maupun duka, karena terlalu besar nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita. Mata kita bergerak sekitar 100 ribu kali dalam sehari atau sama dengan sejauh 80 km kaki kita melangkah, apakah kita mensyukurinya?

Jari kita bergerak ratusan ribu sehari dan kita gunakan untuk mengetik, memasak, bekerja, menggaruk dan sebagainya, apakah kita bersyukur?

Kaki kita melangkah bisa mencapai puluhan km per hari, baik di luar atau di dalam rumah, apakah kita bersyukur?

Jantung kita berdetak sekitar 115 ribu kali dalam sehari, dan ini berlangsung seumur hidup! Ibarat baterai yang sangat kuat, apakah kita sudah mensyukurinya?

Urin (air kencing) manusia bisa mencapai 500 liter dalam setahun. Jika seseorang mengeluarkan biaya sekitar Rp. 10 juta untuk biaya operasi akibat tidak bisa buang air dalam sehari, maka bagaimana jika orang itu tidak mampu buang air seumur hidup? Berapa biaya yang harus dia keluarkan? Apakah kita bersyukur? Mari kita renungkan teguran Allah yang diulang-ulang lebih dari 30 kali dalam surat ar-Rahmān:

(Maka, nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan?!)

Semoga Allah membuka hati kita dan memenuhinya dengan cahaya hidayah sehingga kita termasuk para hamba-Nya yang pandai bersyukur. Amin. Wallahu  a’lam.

Referansi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *