Tawadhu’ – Merendahkan Diri

Oleh: Ust. Abu Bakr

 

Sesungguhnya tawadhu’ merupakan sifat para Nabi dan hamba Allah yang mereka mengetahui kebenaran dan mengikutinya sehingga mereka berbahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya, sifat sombong dan angkuh adalah sifat kaum kafir dan musyrik. Pelaku dosa yang sombong terhadap kebenaran dan angkuh terhadap sesama akan terhina. Oleh karena itu hendaknya setiap insan selalu tawadhu’ dan menjauhi sifat sombong agar Allah mengangkat derajatnya di dunia dan akhirat.

Makna tawadhu’

Tawadhu’ secara bahasa bermakna merendahkan diri. Secara istilah, tawadhu’ adalah menampakkan kerendahan kepada orang yang ingin dihormati atau menghormati orang yang lebih atas darinya karena keutamaan yang dimiliki.[1] Fudhail bin ‘Iyadh pernah ditanya tentang tawadhu’, ia menjawab, “Tunduk kepada kebenaran, melaksanakannya dan menerimanya dari siapa saja saat kebenaran itu datang.” Sebagian ulama ada yang mengatakan, “Tawadhu’ adalah tidak melihat pada dirimu ada suatu kelebihan. Jika engkau masih melihat pada dirimu ada suatu yang istimewa, maka engkau tidak mendapatkan bagian tawadhu’.” Abu Yazid al-Busthami berkata, “Tidak melihat dirinya memiliki kedudukan atau posisi lebih tinggi dari orang lain dan tidak melihat ada orang lain yang lebih rendah darinya.” (Madarijus Salikin 2/329, tahqiq Muhammad Hamid Fiqi)

Macam-macam Tawadhu’:

Tawadhu’ ada dua macam:

  1. Tawadhu’ yang terpuji. Yaitu tidak merasa lebih tinggi terhadap hamba Allah yang lain. Tawadhu’ ini muncul karena pengetahuannya tentang kebesaran dan kemuliaan Allah dan banyaknya aib dirinya, sehingga muncul dari dalam hatinya ketundukan kepada Allah dan ia merasa tidak punya kelebihan apa-apa dibanding makhluk lainnya. (ArRuh 234)
  2. Tawadhu’ yang tercela. Yaitu merendahnya seseorang kepada orang yang memiliki dunia (jabatan, kekayaan, dan lainnya) karena ingin mendapatkan dunia tersebut. (Raudhatul Uqala’, Ibnu Hibban hal. 59)

Tawadhu’ kepada Allah juga ada dua macam:

  1. Tawadhu’nya hamba kepada Rabb-nya tatkala melakukan ketaatan. Tidak brbangga diri dengan amalan itu karena ia merasa masih banyak kekurangan dalam melaksanakan hak-hak Allah. Dan semua amalan yang dikerjakan semata-mata karunia dari Allah kepadanya.
  2. Seorang hamba mencela dirinya sendiri karena kelalaiannya dalam muhasabah (introspeksi diri) dalam menunaikan hak dan kewajibannya kepada Allah.

(Tadzkirul Basyar bi Fadhl atTawadhu’, Syaikh Abdullah alu Jarullah hal. 2-3)

Keutamaan Tawadhu’

  1. Seorang yang tawadhu’ akan diangkat derajatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Tidaklah seseorang tawadhu’ karena Allah melainkan Allah akan mengangkatnya.” (HR. Muslim: 2588) Yaitu, Allah akan akan mengangkatnya di dunia sebagai balasan tawadhu’nya dan ia pun akan mendapat pahala di akhirat karena tawadhu’nya di dunia.[2]
  2. Tawadhu’ merupakan sifat calon penduduk surga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. (QS. al-Qashash: 83)

Ibnu Katsir berkata, “Allah mengabarkan bahwa negeri akhirat dan kenikmatannya yang kekal adalah bagi hamba-Nya yang beriman lagi tawadhu’, yang tidak ingin menyombongkan diri…” (Tafsir Ibnu Katsir 6/258)

  1. Tawadhu’ adalah sifat hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mulia. (QS. al-Furqān: 63)
  2. Tawadhu’ dalam berpakaian akan mendapatkan ganjaran khusus. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan suatu pakaian lantaran tawadhu’ karena Allah padahal ia mampu memakainya, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan semua makhluk sehingga disuruh memilih perhiasan iman mana yang mau dipakainya (HR. at-Tirmidzi 2481, Shahih al-Jami’: 6145)[3]
  3. Tawadhu’ akan mewariskan keselamatan, membuahkan persaudaraan, menghilangkan kedengkian dan permusuhan. (RaudhatulUqala’ 61)

Faktor pendorong untuk menjadi orang yang tawadhu’

  1. Bertakwa kepada Allah.

Tawadhu’ tidak akan diperoleh kecuali bagi ahli takwa, karena hakikat tawadhu’ adalah merendahkan diri kepada Allah dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. (ArRuh: 234)

  1. Perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau senang diperlakukan demikian. Al-Hasan al-Bashri berkata, “Tawadhu’ adalah, engkau keluar rumahmu dan tidaklah engkau bertemu seorang muslim pun melainkan kau melihat orang itu memiliki kelebihan darimu.” (At-Tawadhu’ wa al-Khumul: 154)
  2. Mengingat asal penciptaan manusia yang sebelumnya ia bukan apa-apa. (At-Tawadhu’ fi Dhau’il Qur’an was Sunnah 31-32)
  3. Menyadari keterbatasan diri. Manusia tidak akan bisa menembus bumi dan sekali-kali tidak akan sampai setinggi gunung, lalu kenapa ia sombong?! (Adhwa’ul Bayan 3/592)
  4. Menyucikan hati. Apabila hati seseorang baik maka semua amalannya akan baik. Maka hendaknya setiap orang membersihkan hatinya dari hasad, dengki, ujub, dan sombong, karena hati merupakan sumber penyakit ini. (Durus Imaniyah fil Akhlaq alIslamiyah 61)

Potret tawadhu’nya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam

Abu Hurairah dan Abu Dzar Radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah duduk di belakang para sahabatnya, sehingga orang asing tidak mengenalnya sampai ia bertanya…” (Shahih Abu Dawud: 4698)

Aisyah Radhiallahu ‘anha pernah ditanya, “Apa yang Nabi kerjakan di rumah?” Aisyah menjawab, “Beliau membantu keluarganya, dan bila datang waktu shalat beliau keluar shalat.” (HR. al-Bukhari: 676)

Anas Radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah membonceng orang di belakangnya, meletakkan makanannya di tanah, memenuhi undangan budak-budak dan mengendarai keledai.” (HR. al-Hakim 4/132, Shahihul Jami’: 4945)

Ada seseorang yang berkata kepada Rasulullah, “Wahai tuan kami, anak tuan kami, orang terbaik kami, anak orang terbaik kami…” Beliau pun berkata, “Wahai manusia, hendaknya kalian bertakwa, janganlah kalian diperdayakan oleh setan. Saya Muhammad bin Abdullah, saya hamba Allah dan Rasul-Nya, saya tidak suka diangkat melebihi kedudukan yang Allah berikan kepadaku.” (HR. al-Ahmad 3/153, dishahihkan oleh Ahmad Syakir)

 

Potret ketawadhu’an para sahabat

Karena meneladani Rasulullah, para sahabat pun berhias dengan sifat tawadhu’. Abu Bakar memerah susu buat tetangganya (padahal beliau khalifah). (AtTabshirah, Ibnul Jauzi: 408)

Saat Umar bin Khaththab menjadi khalifah, pernah melewati suatu penyeberangan kemudian beliau turun sambil melepas sepatunya dan menyelempangkannya di pundak. (HR. al-Hakim 1/130, Shahih atTarghib: 2893)

Al-Hasan pernah berkata, “Saya pernah melihat Ustman bin Affan tidur siang di masjid yang saat itu ia menjadi khalifah. Ketika bangun, ada bekas kerikil di pundaknya.” (AtTabshirah: 437)

Ali bin Abi Thalib pernah membeli daging dan membawanya di dalam mantelnya. Ada yang berkata, “Saya bawakan, wahai Amirul Mukminin!” Beliau menjawab, “Tidak, kepala rumah tangga lebih layak membawanya.” (AlIhya 2/368)

Abu Hurairah pernah menjadi Amir. Suatu ketika ia memikul beberapa ikat kayu bakar, lalu ada yang berkata, “Berikan jalan buat Amir…!!” (Tarikh Dimasyqa 67/373) Walhamdulillah.

[1] AlQamus alMuhith hal.997, Fathul Bari 11/341.

[2] Ikmalul Mu’lim 8/59.

[3] Maksudnya, saat berada di kalangan bawah, hendaknya ia memakai pakaian yang tidak terlalu mencolok dan menunjukkan bahwa ia lebih kaya dari orang sekitarnya. Namun, bila ia berada di tengah masyarakat kelas menengah ke atas, tidak mengapa ia kenakan pakaian seperti yang mereka kenakan (asal tidak berlebihan), karena Allah menyukai keindahan. (Syarh Riyadh ash-Shalihin 3/317-318)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *